Kita sudah biasa melihat dan hidup bersama bayang-bayang dan cermin. Selama ini keduanya wujud tanpa kita rasa ia ada di samping kita.

Dengan cermin kita dapat melihat diri kita. Cantik dan tidak pada wajah dapat diceritakan pada cermin itu. Namun jujurkah kita pada cermin? Jujurkah kita pada diri sendiri? Apabila kita sudah nampak wajah kita pada hari ini, saat ini, berapakah ramai yang akan mengatakan; Syukur kepada Allah kerana aku diberikan nyawa dan jasad sekali lagi, hingga saat ini..dan aku dapat pula melihat keindahan ciptaan-Mu pada diriku.

Ternyata kita sering terleka siapakah di sisi kita sekarang. (Dan kita jarang memperdulikan siapakah disekeliling kita.) Kita punya keluarga, masyarakat dan sahabat. Kita lahir dalam keluarga. Kita hidup dalam masyarakat dan membina diri melalui sahabat.

Percayalah, ibarat cermin, sahabat juga mampu menceritakan apakah yang sebenar pada diri kita. Namun, adakalanya apabila kita melakukan kesilapan dan ditegur, hati kita terluka. Lantas membalas teguran itu dengan kelakuan yang mengguris hatinya.

Sampai satu ketika, sahabat itu pergi dan tiada lagi orang yang dekat dengan kita yang sudi memberikan nasihat. Kita telah kehilangan cermin hidup. Ibarat tiada cermin pada anda, bagaimana anda ingin melihat diri anda?

Aku juga sering melihat tentang bayang-bayang. Ia sentiasa mengekori kita namun tidak dapat menceritakan apa-apa. Keakuan diri kita tidak dapat dikongsi oleh bayang-bayang. Ia tidak ada manfaat sebagaimana cermin. Ia wujud, mungkin sekadar bagi menceritakan kepada kita, betapa diri ini masih seorang manusia yang bernyawa.